Tampilkan postingan dengan label Dinul Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dinul Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2010

KONTEKS PEMIKIRAN DAN PEMAHARUAN IBNU SINA DAN IBNU RUSYD


Disusun Oleh :
                                         Philosofia                                           
                                     Indri Puspita                                      
                                    Agustina.K.D                                     
                                         M.Allex.M                                          

I.       PENDAHULUAN
Di saat Islam mendapat serangan pemikiran falsafah dari Barat, para pemikir dan saintis Islam seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina, berani keluar dari keasikan “ibadah oriented” kepada memanfaatkan akal secara maksimal dengan bimbingan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Pemikiran mereka ini menghasilkan banyaknya penemuan yang mengagumkan dunia, mereka adalah para penemu berbagai bidang disiplin keilmuan seperti matematika, sains, kedokteran, falsafah yang tidak pernah dibincangkan sebelumnya. Karya-karya mereka ada yang menjadi rujukan selama lima abad di Eropa.
Mereka adalah maskot kebangkitan filsafat dan rasionalisme Islam. Atas jasa beliau berdua, dengan filsafat, manusia mampu menemukan keagungan Tuhan melalui oleh cakrawala atas semua ciptaan-Nya. Mereka bukan saja berpikir untuk zamannya, tetapi juga berpikir untuk masa depan. Pemikirannya di satu sisi berpijak pada konteks sosial pada zamannya, tetapi di sisi lain terlihat ia ingin melampaui zamannya. Pencerahan yang disuguhkan makin kompleks. Pada mulanya pencerahan akal, lalu pada akhirnya menuju pencerahan umat.
Mengingat jasa-jasanya  dalam induk ilmu pengetahuan ( filsafat ) yang menjadikan bangsa barat terkagum-kagum, dan bergerak untuk mengembangkan, inilah yang memotivasi untuk mengetahui lebih jauh mengenai Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Dengan demikian, diharapkan mampu meneladani apa yang telah beliau lakukan.
II.    IBNU SINA
A. JATI DIRI
Ibnu Sina ( 980-1037 M ) adalah filsuf muslim berdarah Persia yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap para filsuf Barat kemudian. Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah ( 980 M ) di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan.
Sejak masa kanak-kanak, ia yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah. Pada usia lima tahun dia sudah mampu menghafal Al Quran. Meskipun dipengaruhi oleh Islam Ismaili, namun pemikirannya independen dengan memiliki kepintaran dan daya ingat yang luar biasa.
 Berkah itulah yang kemudian membuatnya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun. Ilmu kedokteran sudah dipelajarinya sejak usia 16 tahun. Selain menguasai ilmu itu, pada usia 18 tahun Ibnu Sina sudah mengantongi predikat sebagai seorang fisikawan. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu. Dia belajar dari mana saja bahkan dari seorang pedagang sayur sekalipun. Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.
Dunia menjulukinya sebagai 'Bapak Pengobatan Modern'. Hasil pemikirannya yang termasyhur adalah The Canon of Medicine atau Al-Qanun fi At Tibb. Ia juga menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.
Ia wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun, setelah menyumbang banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah.

B. POKOK-POKOK PIKIRAN IBNU SINA
 Ibnu Sina mengembangkan pemikiran tentang jiwa yang sudah diawali oleh AI-Farabi, yaitu membagi jiwa menjadi tiga bagian: (1) Jiwa tumbuh-tumbuhan dengan daya makan, tumbuh dan berkembang biak; (2) Jiwa binatang dengan daya gerak dan pancaindera. Indera ada dua macam: (a) Indra luar, yaitu pendengaran, penglihatan, rasa dan raba; dan (b) Indra dalam yang berada di otak dengan fungsi: menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra; menggambarkan kesan-kesan tersebut; mengatur gambar-gambar ini; menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut; dan menyimpan arti-arti itu sebagai ingatan; (3) Jiwa manusia dengan daya tunggalnya yaitu berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua: (a) Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang; dan (b) Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat. Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedangkan akal teoritis kepada alam metafisik.
Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini, dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berfikir manusia yang disebut akal itu. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: (1) Akal potensial, yaitu akal yang mempunyai potensi untuk rnenangkap arti-arti murni; (2) Akal bakat, yang telah mulai dapat rnenangkap arti-arti murni; (3) Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak rnenangkap arti- arti murni; dan (4) Akal perolehan yang telah sernpurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. Akal tingkat keempat inilah yang dimiliki oleh para filsuf. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke bumi.
Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh, orang itu dekat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. Setelah tubuh manusia mati, yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik. Kedua jiwa ini, karena telah rnemperoleh balasan di dunia, tidak akan dihidupkan kembali di akhirat.
Sementara jiwa manusia berlainan dengan kedua jiwa di atas dengan fungsinya yang bersifat abstrak dan rohani. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia, tetapi di akhirat. Kalau jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak kekal, jiwa manusia adalah kekal. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Penalaran inilah yang mendasari faham bahwa yang akan menghadapi perhitungan kelak di akhirat adalah jiwa manusia, dan secara logis menolak adanya kebangkitan jasmani. Ibnu Sina percaya bahwa ruh bersifat abadi.

C. KONTEKSTUALISASI PEMIKIRAN IBNU SINA
Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama kitab Al-Syifa’. As Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq As Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq Islami, sementara pembahasan ilmu alam dan Ilahiyyat dari kitab As-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.
Kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.
Dikatakan juga bahwa ia memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung.
Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat. 

III. IBNU RUSYD
A.    JATI DIRI
Ibnu Rusyd ( 1126-1198 M ) lahir di Cordova pada 1126 M dan wafat di Maroko pada 1198 M. Di dunia Barat ia lebih dikenal dengan nama Averroes. Keluarganya mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Ayah dan kakeknya pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia. Sejak kecil, ia telah mempelajari Al Quran, ilmu tafsir, hadis, fikih, dan sastra Arab. Ia juga pernah menjadi qâdlî (hakim) di Sevilla dan qadlî al-qudlât (hakim agung) di Cordova.
Ia muncul seabad lebih sesudah Ibnu Sina dalam komunitas muslim Spanyol. Dalam filsafat ia dikenal sangat mengagumi Aristoteles. Dalam proyek intelektualnya ia berusaha membebaskan filsafat dari perangkap-perangkap penafsiran Neoplatonis semisal faham emanasi ciptaan dari Tuhan. Ia percaya bahwa ciptaan bersifat abadi dimana Tuhan senantiasa terlibat secara aktif dalam kehidupan manusia dengan pengetahuan-Nya yang serba meliputi segalanya.
B.POKOK-POKOK PIKIRAN IBNU RUSYD
Ia percaya bahwa setelah kematian, ruh manusia bergabung kembali dengan Intelegensi Aktif universal. Jadi, keabadian jiwa terjadi bersama jiwa universal, bukan jiwa individual. Ia juga menolak ide tentang kehendak bebas. Kebenaran dipercayainya terdapat dalam berbagai tingkatan termasuk Al-Qur’an yang menawarkan kebenaran kepada segala jenis individu dengan watak yang berbeda-beda dalam cara yang berbeda- pula.
Bagi orang biasa misalnya, kata harfiah mungkin sudah cukup, tetapi bagi orang yang terdidik hal itu mungkin belum cukup, argumen-argumen persuasif bahkan demonstrasi rasional dibutuhkan. Pendiriannya ini disebut dengan doktrin kebenaran ganda. Doktrin itu pula yang dipakai menyerang pemikiran filsuf Persia Al-Ghazali (1058-1111 M) yang mengembangkan metode-metode pencarian kebenaran yang lebih bersifat mistis. Sekalipun ia mengakui, seperti halnya Ibnu Miskawaih, bahwa perbincangan filosofis tidak tepat bagi setiap orang. Terhadap tiga kritikan paling krusial dari al-Ghazali terhadap kaum filosof, Ia memberi jawaban sebagai berikut:
Pertama, ketika Tuhan menciptakan alam bukannya dari suatu ketiadaan, tetapi ketika itu telah ada sesuatu di samping-Nya yang berupa materi dasar sebagai bahan penciptaan sebagaimana ditunjukkan oleh surat Hud ayat 7, Ha Mim ayat 11 dan al-Anbia’ ayat 30. Materi asal itupun bukannya timbul dari ketiadaan, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan oleh pemikiran Tuhan. Di samping itu, kata khalaqa di dalam al-Qur’an juga menggambarkan penciptaan bukan dari “tiada” (creatio ex nihilo), tetapi dari “ada” (misalnya surat al-Mu’minun ayat 12 tentang penciptaan manusia). Menurutnya “tiada” tidak bisa berubah menjadi “ada”, tetapi yang tepat adalah “ada” menjadi “ada” dalam bentuk lain. Sementara tentang keazalian alam yang dimaksud para filsuf adalah merujuk pada pengertian sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus mulai dari zaman tak bermula dengan bahan dasar yang telah ada di sisi Tuhan sampai zaman tak berakhir (Ibrahim ayat 47-48).
Kedua, mengenai pernyataan al-Ghazali bahwa para filsuf berpendapat Tuhan tidak mengetahui perincian (juz’iyat) yang terjadi di alam, Ia membantah bahwa pernah ada filsuf Islam yang mengatakan demikian. Sebenarnya, yang dibahas para filsuf adalah tentang bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Ulasan tentang emanasi wujud di atas kiranya cukup menjelaskan persoalan ini dari kacamata filsuf.
Ketiga, terkait dengan tuduhan bahwa para filsuf menentang ajaran kebangkitan jasmani, Ia mengatakan bahwa para filsuf muslim tak menyebutkan hal itu kemudian Ia balik mengkritik inkonsistensi pemikiran al-Ghazali. Sebab, dalam Tahafut Al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya kebangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lainnya ia mengatakan jika di kalangan sufi muncul pandangan bahwa yang ada nanti ialah kebangkitan rohani. Dari sini Ibnu Rusyd menilai bahwa Al-Ghazali juga tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan para filsuf. 

C. KONTEKSTUALISASI PEMIKIRAN IBNU RUSYD
Terdapat empat hal dari pandangan-pandangan Ibnu Rusyd yang senantiasa menyegarkan dan mendewasakan wawasan keagamaan. Pertama, pluralisme dalam ijtihad. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pintu ijtihad ditutup oleh sebagian kalangan dan dipersempit dari persoalan hukum hanya menjadi persoalan hukum agama. Akibatnya, sikap taklid terhadap warisan hukum-hukum fikih yang telah terkodifikasi menjelma begitu saja menjadi wawasan sosial dan pandangan hidup. Sikap tersebut juga berawal dari kaburnya pemahaman tentang apa yang disebut agama dan pemahaman agama. Melihat fenomena ini, Ia mencoba membuka kembali batas-batas yang selama ini dikekang. ia mengudar artefak-artefak hukum fikih dari pelbagai mazhab, menganalisisnya dengan model pembacaan sosiologis-hermeneutis, menelisik akar perbedaan setiap mazhab dalam menggali dalil-dalil yang memproduk suatu hukum, kemudian menembus jantung hukum fikih itu sendiri, yaitu Al Quran dan sunah.
Dari setiap ijtihad fikih, dua elemen penting yang patut diperhatikan adalah obyektifikasi dan pertimbangan dimensi moral etiknya. Berijtihad berarti meniscayakan untuk membuka kritik dan pembenahan karena kebenaran tidak pernah final. Kesalahan yang terjadi dalam proses pergulatan akal jauh lebih baik dari sekadar menerima kebenaran dengan tanpa proses apa pun.
Kedua, kebebasan berpikir dan tradisi kritik. Ia menjadi orang yang pertama kali mengkaji, menganalisis, menjabarkan, serta mengomentari filsafat Aristoteles secara detail dan gamblang. Ia berhasil menyeimbangkan akal dan iman. Di hadapan keluhuran tradisi keagamaan dan tradisi filsafat, pandangan Ibnu Rusyd telah mengenalkan kepada kita mentalitas dan nalar abad pertengahan, baik dalam konteks Arab-Islam ataupun Latin-Yunani-Kristen. Nalar filsafat telah memainkan peran aktif dalam memelihara hak manusia untuk mengkritik dan bertanya.
Ketiga, dialog antaragama. Ibnu Rusyd mengatakan perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk melakukan dialog. Apabila kita menemukan kebenaran dari agama lain, kita patut menerima dan menghormatinya. Sebaliknya, jika kita menemukan kesalahan, maka kita patut memperingatkan dan memaafkannya. Memang, salah satu problem umat beragama adalah bagaimana berhubungan dengan umat agama lain. Dalam konteks Islam, fikih yang tersedia mempunyai dilemanya tersendiri sehingga baik secara eksplisit maupun implisit telah menebarkan kecurigaan terhadap agama lain.
Dialog antar umat agama sekarang ini semakin dirasa penting seiring meluasnya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kuatnya kesadaran agama dalam masyarakat dapat menjadi faktor pemersatu sekaligus mudah disalahgunakan sebagai alat pemecah belah. Sosiolog Muslim, Ibnu Khaldun, mengatakan, perasaan seagama memang diperlukan, tetapi tidak cukup untuk menciptakan perasaan memiliki kesatuan sosial (social belonging). Untuk itu, setiap pemeluk agama perlu mengungkapkan pandangannya secara tepat serta mendengarkan pandangan mitra dialog secara terbuka tanpa disertai dengan penilaian apriori. Melalui dialog, setiap pemeluk agama belajar dari pandangan dan pengalaman satu sama lain, karena salah satu fungsi utama agama dalam konteks sosial tidak lain adalah memberikan rasa aman kepada sesamanya.
Keempat, kontrol atas kebijakan publik. Menurutnya, Islam tidak mempunyai banyak pemikiran tentang filsafat politik, sementara sejarah perebutan kekuasaan amat dahsyat terjadi. Oleh karena itu, dengan mendasarkan diri pada filsafat politik Plato, Ia menghendaki seorang pemimpin negara adalah juga seorang filsuf.
Membaca karya Ibnu Rusyd, yang paling menonjol adalah aspek falsafaty (estetika logika dan filsafat). Menurutnya, nilai filsafat dan logika itu sangat penting, khususnya dalam mentakwilkan dan menafsirkan Al Quran sebagai kitab teks, yang selalu membutuhkan artikulasi makna dan perlu diberi interpretasi kontekstual dan bukan artikulasi lafadz.
Menurutnya Islam sendiri, tidak melarang orang berfilsafat, bahkan Al Kitab, dalam banyak ayatnya, memerintahkan umatnya untuk mempelajari filsafat. Takwil (pentafsiran) dan interpretasi teks dibutuhkan untuk menghindari adanya pertentangan antara pendapat akal dan filsafat serta teks Al Quran. Ia memaparkan, takwil yang dimaksud di sini adalah meninggalkan arti harfiah ayat dan mengambil arti majasinya (analogi). Hal ini pula yang dilakukan para ulama klasik periode awal dan pertengahan.
Dalam kaitan kandungan Al Quran ini, Ia membagi manusia kepada tiga kelompok: awam, pendebat, dan ahli fikir. Kepada ahli awam, Al Quran tidak dapat ditakwilkan, karena mereka hanya dapat memahami secara tertulis. Demikian juga kepada golongan pendebat, takwil sulit diterapkan. Takwil, secara tertulis dalam bentuk karya, hanya bisa diperuntukkan bagi kaum ahli fikir. Pemikirannya lalu dikenal sebagai teori perpaduan agama dan filsafat. Menyangkut pemaknaan atas Quran, Ia berpendapat bahwa Al Quran memiliki makna batin di samping makna lahir.
Karya-karyanya tidak kurang 50 judul buku dari berbagai disiplin. Paradigma pembahasannya dibagi dalam tiga kategori, yaitu komentar, kritik, dan pendapat. Ia dengan cermat mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi pemikiran Aristoteles, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, bahkan Al-Ghazali.
Beberapa karya penting Ibnu Rusyd adalah Kitâb Fashl al-Maqâl fî Mâ Bayn al-Syarî`ah wa al-Hikmah min Al-Ittishâl, menguraikan keselarasan antara agama dan akal karena keduanya adalah anugerah Tuhan, Kasyf ’an Manâhij al-Adillah fî ’Aqâid al-Millah, menjelaskan secara rinci masalah-masalah teologi, Tahâfut al-Tahâfut, berisi pembelaan dari tuduhan Al-Ghazali perihal kerancuan filsafat, dan Bidâyah al-Mujtahid, sebuah studi perbandingan hukum Islam yang mengemukakan pendapat-pendapat para imam mazhab.
            Dunia barat (Eropa) pantas berterima kasih pada Ibnu Rusyd. Sebab, melalui pemikiran dan karya-karyanyalah Eropa melek peradaban. "Suka atau tidak, filosofi Cordova dan mahagurunya, Ibnu Rusyd, telah menembus sampai ke Universitas Paris," tulis Ernest Barker dalam The Legacy of Islam. Pemikiran dan karya-karya Ibnu Rusdy sampai ke dunia Barat melalui Ernest Renan, seorang penulis dan sejarawan asal Perancis. Renan, penulis biografi Rusyd berjudul Averroes et j'averroisme mengatakan, filosof Rusyd telah menulis lebih dari 20 ribu halaman dalam berbagai disiplin ilmu.
Apresiasi dunia Barat yang demikian besar terhadap karya Rusyd, kata Alfred Gillaume dalam "Warisan Islam", menjadikan Rusyd lebih menjadi milik Eropa dari pada milik Timur. "Averroisme tetap merupakan faktor yang hidup dalam pemikiran Eropa sampai kelahiran ilmu pengetahuan eksperimental modern," tulis Gillaume.

KESIMPULAN&SARAN
•         Jasa kedua filosofi ini tidaklah sedikit dan patut diperhitungkan untuk senantiasa dipertahankan dan dikadikan sebagai referensi berbagai disiplin ilmu.
•         Karena, atas jasa keduanyalah bangsa-bangsa di dunia (khususnya Eropa) menjadi melek peradaban.
•         Pemikiran mereka merupakan sebuah Mahakarya, maka sudah sepatutnyalah kita harus mampu meneruskan tonggak perjuangan mereka.



REFERENSI
syahwat-pemikiran-pembaharu.html
 Kompas.html
Republikaonline.html
KidungPeziarah.html


Rabu, 29 Desember 2010

HIKMAH SHALAT


            Shalat adalah jalinan ( hubungan ) yang kuat antara langit dan bumi, antara Allah dan makhlukNya ( dalam hal ini manusia ) sehingga Shalat dikatakan sebagai tiang agama dan rukun Islam. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“ Pangkal segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah Shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah “ ( HR.At Tabrani dan Mu’adz ). Dalam Al Qur’an Allah telah mewajibkan shalat atas orang-orang yang beriman yang dijabarkan dalam QS.An Nisa’ 103 :
Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
            Dalam melaksanakan Shalat, terdapat beberapa gerakan-gerakan. Ada pula yang berupa pengulangan. Diantara gerakan tersebut beserta hikmahnya bagi kesehatan antara lain :
  1. Al Qiyam ( berdiri )
Ketika melakukan shalat, berdiri merupakan gerakan pertama setelah takbiratul Ihram ( takbir di awal shalat ). Dalam posisi ini otot yang berada di punggung memberi kesempatan kepada tulang punggung pada posisi lurus.
  1. Gerakan Rukuk
Posisi punggung yang berubah dari posisi ke posisi badan membentuk sudut yang lurus dengan kedua kaki tetap berdiri membuat posisi punggung kokoh, tidak loyo dan tidak membungkuk.
  1. I’tidal ( Bangun dari ruku’ )
Gerakan ini dilakukan dengan hikmad dan akan menjadikan tulang tubuh kembali ke posisi awal.
  1. Dari berdiri menuju sujud
Gerakan ini berlangsung dengan cepat dan hanya membutuhkan waktu sedikit ( seperti yang diungkap oleh Dr.Taufik Ilwan ). Manfaat gerakan ini sebagai sirkulasi darah pada saat turun dari berdiri menuju sujud.
  1. Gerakan Sujud
Sujud adalah bentuk ketundukan tertinggi seorang hamba di hadapan Tuhannya ( dr.Sagiran.M.kes ). Tubuh merendah yang menjadikan otak lebih rendah di bandingkan jantung sehingga terjadilah relaksasi otot-otot punggung yang membuat kelancaran peredaran darah di otak. Sujud juga merupakan gerakan anti stroke. Stroke terjadi bila terdapat pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah sehingga sebagian otak mengalami gangguan, tamak sebagai keadaan lumpuh separuh badan. Sujud juga dapat membantu proses pencernaan dengan proses pemijatan terhadap perut. Bagi kaum ibu, gerakan ini menempatkan rahim pada posisinya yang alami dan mencegah terjadinya kerusakan dan kelainan pada kandungan.
  1. Duduk dalam shalat
Duduk dalam gerakan shalat dengan jari-jari menekuk merupakan relaksasi maksimal dari otot-otot di betis, dimana otot ini sering mengalami nyeri karena menopang postur ( kontraksi statis ) dan berjalan atau lari ( kontraksi dinamis ). Saat duduk, otot tersebut direnggangkan maksimal sehingga terjadi pemulihan dan bebas dari timbunan asam laktat penyebab nyeri dan kelelahan. Dengan duduk ini pula seluruh persendian di tungkai, kaki dan jari-jari menjadi aktif, lentur dan bebas pengapuran, serta kekakuan. Efek lebih lanjut tentu lebih kuat dan tahan terhadap trauma fisik dan mekanik.


  1. Gerakan Salam
Salam adalah perbuatan yang terahir dalam shalat. Salam diucapkan dua kali, kanan dan kiri. Secara anatomis, leher adalah bagian tubuh yang amat vital menghubungkan kepala dan batang tubuh yang menyebabkan penjepitan saraf sering terjadi dikarenakan tidak adanya kelenturan di bagian leher. Gerakan salam pada ahirnya memperkuat otot-otot dan seluruh struktur leher berikut funngsi refleks-refleksnya.
Selain dari segi kesehatan bagi tubuh hikmah shalat yang lainnya  yang diungkap dalam Mukzizat Gerakan Shalat ( dr.Sagiran, M.Kes ) yaitu :
  1. Shalat sebagai cara istirahat sekaligus exercise tubuh.
Shalat yang diawali dengan wudhu, memberi efek kesegaran moisturaising bagi kulit dan selaput lendir. Setelah dimulai dengan takbiratul ikhram dan konsentrasi yang penuh, tubuh akan merasakan rileks. Karena dalam hal pikiran, lisan, dan fisik, benar-benar terkoordinasi sedemikian rupa sehingga sebagai exercise yang menyeluruh. Apalagi jika dilakukan dengan kekhusyukan.
  1. Mengatasi depresi dan putus asa
Hidup manusia tidak terlepas dari berbagai bentuk permasalahan. Ketika permasalahan yang dihadapi telah mencapai klimaks dan manusia merasa kurang atau bahkan depresi yang berujung dengan putus asa yang tidak berkesudahan, dengan shalat, manusia akan merasakan ketenangan batin yang menenangkan, manusia diperintahkan untuk berdo’a memohon pertolongan kepada Allah. Dalam Qur’an surat Al Baqarah ayat 153, Allah berfirman :
“ Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan  ( kepada Allah )dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar “.
Hikmah lain dari shalat menurut Hilmi Al Khuli yakni :
  1. Memperkuat semua otot-otot tubuh dan persendian dengan gerakan ruku’ dan sujud
  2. Memperkuat otot-otot tulang punggung dan mencegah terjadinya pembengkokan
  3. Menghilangkan sesuatu yang menumpuk pada dinding lambung dari bahan minyak dan lemak.
  4. Mencegah penyakit varises karena :
a.        gerakan-gerakan shalat yang khas dan istemewa mampu memperkecil tekanan pada dinding-dinding yang lemah bagi urat-urat kaki bagain luar.
b.        Mengaktifkan kerja pemompaan urat-urat bagian samping sehingga meringankan tekanan urat-urat bagain luar.
c.         Memperkuat dinding-dinding urat yang lemah melalui peningkatan kemampuan zat-zat makanan pembangun tubuh dalam kaitannya dengan pembentukan organ-organ seluruh tubuh oleh zat-zat makanan.
  1. Shalat sebagai sarana mendapat keberuntungan
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya ( Al Mu’minun 1-2 ).
Pengertian keberuntungan dapat diartikan segala sesuatu yang diinginkan manusia ( contoh : kebugaran, kebahagiaan, ketentraman, ketenangan ).
  1. Penjelasan di atas sekaligus menjelaskan mengenai hikmah shalat yang memberikan ketentraman jiwa dan hati karena shalat terdapat bacaan tasbih yang dapat digunakan sebagai penyelamat dan pengaman, ketika menghadapi kesulitan. QS.AS Shafaat ayat 139 mengisahkan mengenai kisah Nabi Yunus A.S yang hendak di lemparkan ke laut lepas.
  2. Shalat adalah pencegah dari perbuatan keji dan munkar ( QS. Al “Ankabut 45 ).
  3. Shalat sebagai ukuran kebersamaan.
Shalat menghapuskan perbedaan yang ada ( contohnya : ras, suku bangsa, negara, kaya, miskin, tua, muda ) karena tidak ada istilah pengelompokan dalam shalat, semua berada dalam satu shaff ( barisan ) yang sama.
  1. Shalat juga mengusir rasa sepi.
Pembiasaan shalat berjamaah di masjid, menjadikan individu tersebut mempunyai kesempatan untuk berinterakasi dengan orang lain sehingga hilanglah rasa sepi yang dideritanya.
  1. Shalat mencegah perasaan takut dan berkeluh kesah.
Dua sifat dominan yang tidak luput dari setiap manusia adalah perasaan takut dan berkeluh kesah saat menghadapi ujian atau cobaan, sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an surat Al-Ma’arij 19-23.





           

Coba aja download and pahami

Shalat Khusyu' Itu Mudah
www.shalatcenter.com

Daftar Isi i
Kata Pengantar Abu Sangkan 1
Prakata 3
Shalat Khusyu' Itu Mudah 5
Kegagalan meraih khusyu’ 6
Mendadak khusyu' 6
Peka dan tanggap lingkungan 8
Khusyu’ menurut Al Qur'an 9
Siapkan diri untuk khusyu' 11
Babak I : Kesadaran Berketuhanan 13
3 golongan manusia 13
Mengukur kadar keimanan 15
Dzikirlah sebanyak-banyaknya 17
Sang pencipta langit dan bumi bernama Allah 18
Berbuat dengan penuh kesadaran 21
Babak II : Tunduk dalam Kepasrahan 22
Evaluasi pelaksanaan rukun shalat 22
Bacaan bukan panglima 23
Rukun shalat yang dilupakan 24
Gerakan yang menghantarkan jiwa 25
Rukuk dan sujud dengan penuh kerendahan 27
Sempurnakan sujud dan rukuk 31
Babak III : Berdialog dengan Allah 33
Allah menjawab setiap pujian dan doa 33
Komunikasi dua arah 35
Perjalanan Masih Panjang 39
Referensi 41
Penutup 42
Halaqah & Informasi Shalat Khusyu' 43

GENERASI QUR’ANI SEJAK DINI

Pendidikan generasi penerus muslim di masa mendatang hendaknya selalu berdasarkan Al Qur’an untuk menjaga diri dari perkembangan zaman yang penuh dengan kemungkaran, karena Al Qur’an merupakan pedoman jalan lurus dan tak mengandung suatu kebatilan apapun. Oleh karena kualitas pendidikan yang diberikan sejak dini akan menjadi aset yang sangat berharga di masa mendatang. Maka amat baik jika anak dibiasakan membaca Al Qur’an dengan benar, dan diupayakan semaksimalnya agar menghafal Al Qur’an atau sebagian darinya dengan diberi dorongan melalui berbagai cara.
"Barang siapa membaca Al-Quran dan mengamalkan kandungan isinya, niscaya Allah pada hari kiamat mengenakan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang cahaya nya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Maka apa pendapatmu tentang orang yang mengamalkan hal ini".
Pendidikan sejak dini dilakukan sejak periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) yang merupakan periode amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periode ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengan nyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa, karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini (Muhammad, 2009) .
Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak. Sebagaimana hasil penelitian Dr. Nurhayati dari Malaysia yang mengemukakan tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang (Nurhayati, 2009)
Penelitian tersebut diperkuat oleh pendapat Ainain (Ainain, 2004) bahwa menghafal Al-Qur'an pada tahapan pertama pendidikan dapat membantu penguatan daya ingat dan akalnya. Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Pada usia 0-3 tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antarsel). Pada saat inilah anak-anak bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang, memperdengarkan bacaan Al Qur' an. Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang (mengalami pengulangan - pengulangan) akan menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dipangkas alias dibuang. Oleh karenanya, usia sebelum 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan daya serap otak anak agar tidak terpangkas percuma. Pengajar bisa menggunakan strategi pengajaran, dengan mengoptimalkan delapan kecerdasan yang potensial untuk dikembangkan pada anak (multiple intelegence), yaitu linguistik, di mana potensi kecerdasan anak dikembangkan dengan memberikan bimbingan menghafal Alquran melalui mendengar, menulis. Matematis-logis, mengklasifikasikan ayat dan permainan angka. Spasial visual, visualisasi surat dengan kisah & VCD.
Otak yang belum matang rentan terhadap trauma, baik terhadap ucapan yang keras maupun tindakan yang menyakitkan. Susunan otak terbentuk dari pengalaman. Jika pengalaman anak takut dan stress, maka respons otak terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat merubah struktur fisik otak. Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan, sebaiknyalah kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Sebagaimana Rasulullah saw bersikap sangat penuh kasih sayang terhadap anak-anak.
Otak terdiri dari dua belahan yaitu kanan dan kiri yang memiliki fungsi yang berbeda namun saling mendukung. Pekerjaan otak kiri berhubungan dengan fungsi verbal, temporal, logis, analitis, rasional serta kegiatan berpola. Pekerjaan otak kanan berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja dengan gambaran (visual) dan berfikir intuitif, abstrak dan non-verbal serta kemampuan taktil/motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan akhlak dan moral. Sistem pendidikan kita maupun ilmu pengetahuan pada umumnya cenderung kurang memperhatikan kepandaian yang tak terucapkan. Jadi, masyarakat modern cenderung menganaktirikan belahan otak kanan.
Menurut Bob Eberle, seorang ahli pendidikan, "prestasi pikiran manusia memerlukan kerja yang terpadu antara belahan kiri dan otak kanan". Kalau tujuan kita adalah mengembangkan pribadi yang sehat dan jika kita ingin menumbuhkan kreativitas secara penuh, maka diperlukan pengajaran untuk menuju keseimbangan antara fungsi kedua belahan otak itu.
Perkembangan bayi menjadi seorang anak, tentu tidak cukup bila hanya dengan memperdengarkan bacaan Al Qur’an saja. Dunia selanjutnya bagi anak-anak adalah dunia bermain sebagai stimulasi lanjutan pengembangan kecerdasan anak. Anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang.
Para ahli mendefinisikan bermain sebagai apapun kegiatan anak yang dirasakan olehnya menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable). Bermain dapat menggunakan alat (mainan) ataupun tidak. Hanya sekedar berlari-lari keliling di dalam ruangan, kalau kegiatan tersebut dirasakan menyenangkan oleh anak, maka kegiatan itupun sudah dapat disebut bermain.
Sekalipun dunia bermain adalah dunia anak-anak, tapi anak membutuhkan peran pendidik untuk dapat berada dalam dunianya itu secara aman dan nyaman. Anak tidak hanya merasa senang dan bahagia ketika melakukan permainan, tapi dengan bimbingan yang tepat dari pendidik, potensi diri anak juga dapat berkembang, anak dapat menjadi pintar lewat sarana permainan. Permainan anak yang dibutuhkan untuk menunjang potensi kecerdasan kinestetik, yaitu kegiatan bergerak (olah raga) yang menunjang menghafal Al Qur’an.
Pendidik dituntuntut untuk dapat berperan sebagai pendidik profesional dengan tetap memperhatikan kebutuhan fisik anak dan psikologis anak. Kebutuhan fisik anak, meliputi perlindungan dan perawatan, makanan, kehangatan dan pakaian, udara segar dan matahari, aktivitas dan istirahat, pencegahan terhadap penyakit dan kecelakaan. Sedangkan kebutuhan psikologis anak, meliputi enghargaan, dicintai dan mendapat asuhan, rasa aman, rasa tanggungjawab dan melayani orang lain, disiplin, kesempatan belajar, kesempatan berusaha dan meraih sukses, serta kesempatan untuk mandiri.
Selain itu, di beberapa ayat Al Qur’an sesuai dengan kajian Rafi’udin (2006) yang menjabarkan kaidah pendidikan anak dalam adab Islam meliputi mengajarkan kepada anak agar berbicara dengan lemah lembut, tidak mengeraskan suara atau membuat keributan (QS.Luqman 18-19),  bila bertemu mengucapkan salam, dan tidak memasuki rumah oranglain sebelum mendapat izin (QS.An Nur 27-28), mengucapkan insyaAllah ketika berjanji (QS. Al Kahfi 24), menyantuni fakir miskin (Al Baqarah 188), tidak boros atau berlebihan dalam hal makan dan minum (Al A’raf 31), gemar berdzikir (Ar Ra’du 28). Tentu bagi anak usia dini diterapkan metode yang berbeda bila dibandingkan dengan pengajaran bagi anak usia sekolah, hal ini mengingat bahwa pola pikir seorang anak usia 0-3 tahun masih bersifat kongkrit, yaitu pemahaman yang sesuai dengan apa yang dilihatnya. Oleh karena itulah penanaman adab Islam dapat dilakukan dengan pemberian pemahaman melalui teladan yang sesuai. Untuk itulah para pendidik perlu menerapkan konsistensi dalam perbuatan sehari-hari dalam lingkungan pendidikan anak.
Penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya pendidikan anak usia dini karena akan menentukan kecerdasan anak pada masa mendatang, yang tentunya memberikan pengaruh masa depan bagi generasi muslim. Pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh para pendidik adalah dengan mendekatkan anak sedini mungkin dengan pedoman hidup ummat Islam, yaitu berpegang teguh pada Al Qur’an. Anak mulai diperdengarkan bacaan-bacaan Qur’an di awal perkembangannya sebagai pengenalan pertama sekaligus sebagai stimulus yang mengubah sistim kerja otak. Setelah usia anak bertambah, metode yang diberikan diselingi dengan permainan-permainan yang menunjang anak untuk semakin dekat dengan Al Qur’an. Akan tetapi, tetap membutuhkan perhatian khusus bagi pendidik untuk mengetahui kebutuhan dasar anak yaitu kebutuhan fisik dan psikologis anak. Hal ini dibutuhkan untuk dapat memahami dan menyikapi dengan benar kondisi anak. Tidak hanya itu, pendidik dituntut untuk dapat memberikan teladan adab-adab Islami yang telah dijabarkan di Al Qur’an agar anak dapat mencontoh dengan benar.

Referensi
Ainain. 2004. Mengembangkan Kecerdasan Anak
Hanis.2006.Quranic Quotient.Yogyakarta: Progresif book.
Muhammad Yusuf. 2009. Pendidikan Anak Dalam Islam. http://www.alsofwah.or.id
Rafi’udin,2009.Peran Bunda Dalam Mendidik Buah Hati.Bandung: Media Istiqomah
Soekresno Emmy, S.Pd. 2000. disampaikan pada SEMINAR HARI ANAK NASIONAL
Jumat 28 Juli 2000, Jakarta Pusat.
________.2009. http://www.practicalparent.org.uk/page5.html

Minggu, 21 November 2010

PRINSIP IBADAH DALAM ISLAM

PRINSIP IBADAH DALAM ISLAM
”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. QS.Adzariat 56
Al Qur’an telah menjelaskan bahwasanya tugas manusia di dunia selain sebagai khalifah- pemimpin di bumi ini, juga berkewajiban untuk beribadah kepadaNya. Namun bukan berarti seperti analogi pikiran manusia yang sempit, landasan perintah tidaklah ditarik kesimpulan bahwa Allah membutuhkan manusia sebagai bukti kekuasaaNya. Ayat lain yang memperjelas ketentuan Allah mengenai hal ini disebutkan dalam surat yang sama, ayat selanjutnya, yaitu ayat 57.

“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan”.QS.Adzariat : 57
Allah sama sekali tidak membutuhkan penyembahan dalam bentuk apapun, pada dasarnya manusialah yang sangat membutuhkannya.

Berbagai sumber mengatakan bahwa ibadah ( dari kata 'abada : yang berarti menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah ( naluri ) manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang salah dan sesat.
Dalam Islam ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua merupakan ibadah. Lawan ibadah adalah ma'syiat.
Ibadah ada dua macam :
1.Ibadah Maghdhah ( khusus )
Penjelasan secara singkatnya yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat ritual. Maksudnya dalam pelaksanan telah ditentukan syaratnya, diperinci dengan berbagai hal hingga sebegitu detailnya dan pelaksanaannya lebih kepada penunaian secara ritual, ibadah nyata yang nampak secara dzahir-jelas. Pelaksaannyapun cenderung mengingat, prinsipil. Misalnya : shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah. Ibadah   jenis ini tidak banyak jumlahnya.
2. Ibadah Ghairu Maghdhah ( Mu’amalah )
Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak ditentukan cara dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya memberi perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti umum misalnya : menyantuni fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dll.
  1. Iman kepada Allah dan Hari akhir karenanya amal orang kafir seperti fatamorgana seperti dalam QS.Al Baqarah ayat 56 sebagai berikut  .

62.  Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari Kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
[56]  Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.
[57]  orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
[58]  ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.
  1. Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis :
Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia niatkan.
  1. Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.
Sesuai dengan syariat, tidak dikurangi ataupun dilebihkan bahkan atas hasil pemikiran sekelompok alim ulama sekalipun.

Untuk ibadah maghdhah :
harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis, Kreativitas justru dilarang. Sehingga berlaku prinsip " Segala ssesuatu dilarang, kecuali yang diperintahkan". Kita dilarang membuat ritus-ritus baru yang tidak ada dasarnya.
Untuk mu'amalah :
harus sesuai dengan jiwa dan prinsip prinsip ajaran Islam. Pelaksanaannya justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip " Segala-sesuatu boleh, kecuali yang dilarang"
            Sesungguhnya dasar ibdah hanya berupa pembinaan diri menuju ketaqwaan ( QS.Al Baqarah : 21 )

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”, QS.Al Baqarah : 21
Setiap upaya ibadah memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksyiat yang berpengaruh negatif terhadap keimanan.
Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena ma'syiat (Hadis)
            Setiap ibadahpun memiliki kemanfaatan berupa :
  1. Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar

”Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS.Al Ankabut : 45
  1. Puasa untuk mencapai taqwa (2 :183)

Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, QS.Al Baqarah 183
  1. Zakat untuk mensucikan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak  (QS.At-Taubah 103 )
  2. Haji sebagai sarana pendidikan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan kotor. ( QS.Al Baqarah 197 )